domino22


Penyidik KPK Gadungan Ini Nyaris Tipu Bupati Kukar Miliaran Rupiah


Bumbu Berita - Mengaku-aku sebagai penyidik KPK, Hasan Basri menipu Bupati Kutai Kertanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Rita Widyasari. Untungnya Bu Bupati curiga dan terbongkarlah kasus tersebut.

Kasus bermula saat Hasan Basri mendatangi kantor Rita di Tenggarong pada Januari 2015. Tapi Hasan Basri tidak bisa menemui orang nomor satu di Kukar itu. Keesokan harinya, Hasan Basri mengirim SMS kepada Rita bila ia hendak bertemu untuk kepentingan yang mendesak.

Hasan Basri akhirnya bertemu Bupati Rita di restoran di Hotel Gran Mahakam, Jakarta Selatan pada Februari 2015. Dalam pertemuan itu, Hasan Basri mengaku penyidik KPK dan menyampaikan ke Bupati Rita bila KPK banyak menerima aduan soal Bupati Rita. Dalam pertemuan itu, Hasan Basri meminta uang Rp 15 juta dan diberikan lah uang sejumlah tersebut.

Sebulan kemudian, Hasan Basri kembali ke Kukar dan bertemu Bupati Rita. Kali ini ia terang-terangan menawarkan jasa agar Bupati Rita tidak diproses oleh KPK. Dari pertamuan itu, Hasan Basri tidak membawa pulang rupiah sedikit pun.

Aksi Hasan Basri diulangi lagi dengan bertemu Rita di The Cafe, Hotel Mulia pada 6 April 2015. Kali ini Basri melancarkan serangkaian perkataan bohong bila KPK sedang menggelar kasus yang mengarah ke Bupati Rita. Nah, Hasan Basri menyodorkan angka Rp 17 miliar agar Bupati Rita lolos dari jerat KPK.

Terjadilah tawar menawar menjadi angka Rp 9 miliar, tapi syaratnya Bupati Rita akan diperiksa terlebih dahulu di KPK. Namun, dari Rp 9 miliar itu, perlu uang muka agar kasus itu aman.

Tiga hari setelahnya, Hasan Basri-Rita kembali bertemu di tempat yang sama. Hasan Basri kembali meminta uang muka Rp 1 miliar karena KPK akan segera menggelar rapat pleno.

Judi Poker : www.domino22.net

Dalam kondisi itu, Rita yang didampingi ajudannya, Joni Ringgo memberikan uang USD 90 ribu kepada Hasan Basri. Setelah uang berpindah tangan, Hasan Basri angkat kaki dari Hotel Mulia.

Tapi belum sempat meninggalkan parkir hotel, tim KPK yang sesungguhnya datang dan menangkap Hasan Basri. Selidik punya selidik, pria kelahiran 10 Juli 1977 itu bukanlah penyidik KPK. Akhirnya, Hasan pun diperiksa secara intensif dan ia duduk di kursi pesakitan.

Pada 29 September 2015, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) menjatuhkan hukuman kepada Hasan Basri selama 18 bulan penjara. Hukuman itu diperberat menjadi 2 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta pada 11 Desember 2015. Atas putusan itu, Hasan Basri keberatan dan mengajukan kasasi. Tapi apa kata MA?

"Menolak permohonan kasasi Hasan Basri," ujar majelis kasasi yang dikutip detikcom dari website MA, Minggu (4/6/2017).

Duduk sebagai ketua majelis yaitu Sofyan Sitompul dengan anggota Sumardjiatmo dan Desnayeti. Majelis meyakini perbuatan Hasan Basri telah memenuhi unsur delik penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHP.
(asp/fjp)

Sumber : Detiknews.com

No comments

Powered by Blogger.