domino22


'Wonder Woman', Titik Kebangkitan DC dari Keterpurukan


Bumbu Berita - Sejak trilogi Batman ditinggal Christopher Nolan, film-film DC seperti kehilangan nyawa. Beberapa penampilan para superhero mereka terasa tak berjejak di hati penonton.

Alih-alih pujian, tak sedikit kritik buruk yang diterima. 'Batman v Superman' dan 'Suicide Squad' menerima hujatan itu saat filmnya dirilis tahun lalu. Itu pula yang kemudian membuat banyak orang menilai, DC tergopoh-gopoh mengejar Marvel.

Namun kemunculan 'Wonder Woman' seperti menjadi obat dari kekecewaan yang selama ini ditelan oleh DC bersama Warner Bros. Film ini menjadi pencerahan dari kekelaman yang dialami DC belakangan.

Diangkat ke layar lebar setelah tujuh dekade lebih eksis lewat komik (dan sempat diangkat ke serial televisi), Wonder Woman tampil bersinar lewat penampilan Gal Gadot. Terlepas dari kritik dirinya kurang cocok dari segi fisik, namun Gadot cukup berhasil menghidupkan jagoan asal Amazon itu secara visual.

Sang sutradara, Patty Jenkins membuka tabir siapa Wonder Woman bak cerita yang bertutur. Ia bernama Diana yang lahir di kerajaan Themyscira. Sebuah kerajaan di atas samudera yang tersembunyi oleh tabir yang diberikan Zeus.

Sang ibu adalah ratu Hippolyta (Connie Nielsen) merupakan penguasa kerajaan yang menjadi panutan kaumnya. Ia juga memiliki pasukan terbaik yang semuanya adalah wanita. Sejak kecil, sang ibu meyakini Diana bahwa dirinya adala sosok ajaib yang hidup dari kuasa Zeus setelah dahulu sang ibu mengatakan dirinya dibentuk dari tanah liat.

Di tangan sang bibi, Antiope (Robin Wright), Diana dididik keras menjadi seorang petarung tangguh. Sementara, sang ibu khawatir hal itu akan membuat putrinya terancam dan tersakiti.

Hippolyta menghindarkan Diana dari segala macam pertarungan, pedang, tendangan, hingga pukulan dalam rangkaian latihan fisik untuk mempertahankan diri. Namun apa yang dikhawatirkan Hippolyta menjadi keinginan terpendam bagi Diana.

Diana tak gentar pada ancaman tajamnya pedang, juga rasa sakit. Hal itu semakin menjadi ketika Steve Trevor (Chris Pine) muncul menginjakkan kaki di pulaunya.

Pria pertama yang Diana lihat untuk pertama kalinya. Ia pula yang menjadi nilai tambah Diana untuk memiliki alasan keluar dari pulau tersebut untuk menyelamatkan dunia di luar sana.

Sebuah dunia di tahun 1918 yang tengah mengalami peperangan untuk mengakhiri peperangan -The War to End All Wars-. Di sanalah Diana menemukan takdir dan Ares, musuh yang menjadi legenda bagi kaumnya.

Patty Jenkins patut diberi penghormatan atas kemampuannya meramu kisah superhero ini. 'Wonder Woman' dikemas bak sebuah cerita bertutur dengan bumbu humor yang keluar dari bibir gadis naif yang baru melihat dunia.

"You should be very proud," ujar Diana pada sang penjual es krim saat digambarkan pertama kali mencoba makanan yang belum pernah sekalipun ia makan.

Sementara di saat yang berbeda pula, Gal Gadot mampu menampilkan sosok Diana yang tetap terlihat anggun meski terlibat perkelahian dengan Jenderal Ludendorff (Danny Huston) sang pemimpin perang besar dengan misi menghabisi umat manusia menggunakan bom racun buatan Dr Poison (Elena Anaya).

Meski begitu, agaknya masih terlalu dini bila ingin menyebut film ini menjadi produk terbaik yang baru saja dikeluarkan DC. Pertemuan Diana dengan Ares di tengah-tengah kekacauan perang yang sedang ditanggulangi menjadi bagian yang sulit diakui secara logis.

Pertarungan dewa dengan dewa seharusnya dapat menjadi bagian cerita yang dikemas lain oleh DC.

Bagaimanapun, DC patut berterimakasih pada Patty Jenkins dan Allan Heinberg. Tangan sang sutradara dan penulis skenario yang dikenal lewat serial 'Grey's Anatomy' itu menjawab ekspektasi sebagian orang yang menanti superhero DC tak melulu harus tampil kaku dan serius.
(doc/nu2)

Sumber : Liputan6.com

No comments

Powered by Blogger.